MAKALAH KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN REKREASI LENGKAP DOC

KATA PENGANTAR

     Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan limpahan RahmatNyalah maka kami telah menyelesaikan sebuah karya tulis dengan tepat waktu
.
            Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul “Kepemimpinan Pendidikan Rekreasi” yang menurut kami dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita selaku mahasiswa untuk memahami kepemimpinan pendidikan rekreasi.

            Melalui kata pengantar ini kami lebih dahulu meminta maaf dan memohon permakluman bila mana isi karya tulis ini ada kekurangan dan ada tulisan yang kami buat kurang tepat atau menyinggung perasaan pembaca.

            Dengan ini kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga Allah SWT. memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat.


Banyuwangi, Maret 2017
Penulis






DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL 
KATA PENGANTAR 
DAFTAR ISI.

BAB I  PENDAHULUAN 
1.1  Latar Belakang
1.2  Rumusan Masalah.
1.3  Manfaat Penulisan.

BAB II PEMBAHASAN.
2.1 Pengertian kepemimpinan dan kepemimpinan pendidikan rekreasi
        2.2.1 Definisi kepemimpinan.
        2.2.2 Definisi kepemimpinan pendidikan rekreasi
          2.2 Metode kepimpinan pendidikan rekreasi.  
    
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan 
3.2 Saran.

DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Arti pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan. Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan - khususnya kecakapan-kelebihan di satu bidang , sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk pencapaian satu beberapa tujuan. (Kartini Kartono, 1994 : 181).

 Kepemimpinan pendidikan rekreasi didefinisikan sebagai proses kerja secara efektif bersama-sama dengan peserta didik agar dapat mendorong, memobilisasi dan mengarahkan sebagai upaya secara sungguh-sungguh guna meraih keberhasilan dalam program pendidikan rekreasi di sekolah.     

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian kepemimpinan dan kepemimpinan pendidikan rekreasi?
2. Bagaimana metode kepemimpinan pendidikan rekreasi itu?

1.3 Tujuan

Tentunya makalah ini memiliki manfaat baik bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya. Adapun manfaatnya adalah sebagai berikut:
· Dapat memahami pengertian kepemimpinan dan kepemimpinan pendidikan rekreasi
· Dapat mengetahui metode kepemimpinan pendidikan rekreasi
· Dapat menambah wawasan mengenai kepemimpinan pendidikan rekreasi untuk 
     diterapkan di lembaga formal maupun non formal





BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kepemimpinan Dan Kepemimpinan Pendidikan Rekreasi
2.2.1 Definisi Kepemimpinan

Istilah kepemimpinan merupakan istilah yang sudah dikenal dalam berbagai lapisan masyarakat. Istilah ini cenderung untuk memikirkan mengenai seorang pemimpin sebagai orang yang memiliki kualitas. Artinya orang itu harus mampu membimbing, mengarahkan, atau bahkan memberi komando. Menurut Davis, kepemimpinan sebagai kamampuan untuk mempengaruhi orang lain guna mencapai tujuan secara sungguh-sungguh. Pfiffner dan Presthus menguraikan bahwa kepemimpinan adalah seni mengkoordinasi dan memotivasi individu dan kelompok untuk meraih tujuan yang diinginkan. Sedangkan Slavson menjelaskan kepemimpinan meliputi tiga hal yaitu:
· Kemampuan untuk memahami dan merespon keinginan dan kebutuhan kelompok.
· Memiliki kapasitas untuk membantu kelompok dalam mengekspresikan harapan secara konstruksi dan progresif.
· Memiliki keteguhan untuk lebih memfokuskan perhatiannya pada kelompok daripada kepentingannya sendiri

2.2.2 Definisi Kepemimpinan Pendidikan Rekreasi 

Kepemimpinan pendidikan rekreasi didefinisikan sebagai proses kerja secara efektif bersama-sama dengan peserta didik agar dapat mendoron, memobilisasi dan mengarahkan sebagai upaya secara sungguh-sungguh guna meraih keberhasilan dalam program pendidikan rekreasi di sekolah. Ada empat hal yang tercakup dalam kepemimpinan pendidikan rekreasi yaitu: peranan, fungsi, perilaku, dan kualitas

a. Peranan Kepemimpinan Pendidikan Rekreasi 
   
Peranan pemimpin pendidikan rekreasi adalah bertanggung jawab menjalankan kegiatan rekreasi di lingkungan sekolah dan di luar sekolah
Ada beberapa hal yang sangat diharapkan dari seorang pemimpin dalam pendidikan rekreasi yaitu:
1. Pemimpin harus pandai menggunakan peluang dan menciptakan dinamika antar peserta didik
2. Pemimpin harus selalu bekerja secara serius dan bersemangat untuk mendorong peserta didik lebih kreatif
3. Tindakan yang dapat dilakukan pemimpin dalam pendidikan rekreasi adalah sebagai berikut:
· Memberikan penugasan kepada peserta didik yang sifatnya menyenangkan
· Mencari strategi baru untuk memvariasi suasana agar tidak jenuh dan melahirkan ide-ide original
· Mencari solusi apabila kegiatan pendidikan rekreasi mengalami kemacetan dalam pelaksanaannya.

b. Fungsi Kepemimpinan Pendidikan Rekreasi

Pemimpin pendidikan rekreasi memiliki tanggung jawab untuk menjalankan roda kegiatannya. Adapun fungsi yang diembannya adalah sebagai berikut:
1. Merencanakan program harian dan mingguan
2. Mengarahkan berbagai macam kegiatan yang sesuai dengan tuntunan peserta didik seperti olahraga, seni, keterampilan dan sebagainya
3. Memesan dan memelihara peralatan agar tetap terjaga keberadaannya
4. Mengontrol perilaku peserta didik agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan

c. Perilaku Kepemimpinan Pendidikan Rekreasi

Perilaku pemimpin pendidikan rekreasi adalah melakukan interaksi, membimbing dan memotivasi peserta didik. Perilaku pemimpin akan memberikan konstribusi terhadap efektifitas fungsi pendidikan rekreasi di sekolah

d. Kualitas Kepemimpinan Pendidikan Rekreasi

Kualitas pemimpin pendidikan rekreasi adalah berwawasan , berkepribadian, aktif dan kreatif serta tidah mudah putus asa. 

2.2 Metode Kepemimpinan Pendidikan Rekreasi
Kunci keberhasilan setiap pemimpin rekreasi adalah kemampuan untuk membawa kelompok secara produktif dalam berbagai bentuk aktivitas bermain. Adapun aktivitas atau metode dasar untuk meraih keberhasilan pemimpin pemimpin pendidikan rekreasi yaitu:
1. Memilih Aktivitas yang Cocok
Tiga factor utama yang harus dipertimbangkan dalam memilih aktivitas rekreasi
a. Apakah aktivitas itu memiliki daya tarik. Apakah orang ingin untuk ambil bagian dalam aktivitas tersebut dan menikmatinya
b. Apakah aktivitas itu dapat diterima secara umum dan memberikan nilai-nilai positif dan konstruktif.
c. Apakah aktivitas itu cocok secara adminitratif, perihal kepemimpinan, materi, alat atau fasilitas yang diperlukan oleh peserta didik.

Diluar factor-faktor umum tersebut, pilihan aktivitas rekreasi yang cocok untuk beberapa kelompok akan bergantung pada unsure-unsur berikut ini:
· Umur kelompok, 
· Tingkat kebugaran jasmani dan kesehatan fisik peserta didik,
· Status mental dan psikis peserta didik,
· Ukuran kelompok,
· Waktu,
· Fasilitas,
· Pengalaman rekreasi sebelumnya dari kelompok itu.

2. Personaliti Kepemimpinan yang Efektif

Personaliti dan gaya yang dimiliki pemimpin akan mempunyai pengaruh pada kemampuannya untuk melibatkan peserta didik agar berhasil dalam aktivitas rekreasi. Pemimpin harus dapat menyajikan aktivitas itu secara jelas dan efisien. Pemimpin harus mengetahui segala fasilitas yang diperlukan peserta didik. Pemimpin harus mempunyai control dari anggota agar dapat tidak menyimpang.
Pemimpin harus mengetahui bagaimana untuk mengajarkan aktivitas-aktivitas, sebab mengajar adalah bagian penting dari pekerjaannya. Jadi, mengajar efektif merupakan kunci dari professional rekreasi. Konsep mengenai pemimpin dalam pendidikan rekreasi telah dikembangkan oleh para ahli psikologi pendidikan.

3. Konsep Dasar Mengenai Belajar dan Mengajar  

Ada sebuah penelitian dalam bidang psikologi belajar yang hasilnya harus memberi nilai berharga bagi individu yang peduli dengan proses mengajar.

a. Kesadaran mengenai perbedaan individu
Kesadaran mengenai perbedaan individu merupakan hakekat untuk mengenali bahwa setiap peserta didik adalah individu dan harus belajar dengan caranya sendiri.

b. Belajar sambil berbuat
Orang belajar sangat bagus apabila sambil berbuat. Ini tidak cukup untuk dikatakan tentang sebuah aktivitas. Tidak semua pengajaran mendapatkan respons dari peserta didik. Bahkan diantara peserta didik ada yang duduk-duduk saja, melaakukan obsevasi, atau mendengarkan. Namun yang terbaik tentu saja seluruh peserta didik dapat terlibat di dalam proses belajar mengajar.

c. Menganalisis tugas belajar
Seorang guru harus dapat mengidentifikasi skill dan tugas belajar yang sesuai dengan kemampuan peserta didik demi mendapat hasil yang maksimal dan mempermudah proses belajar mengajar.

d. Memilih alat yang sesuai untuk mengajar
Dalam beberapa kasus, pendekatan problem solving dapat dipakai. Disini, pemimpin rekreasi meminta peserta didik untuk melakukannya dengan caranya sendiri. Tidak harus mengikuti apa yang dilakukan oleh pemimpin rekreasi.

e. Pembelajaran keseluruhan vs bagian
Metode bagian dipengaruhi oleh pikologi Behavior dimana semua tugas belajar harus dibagi kedalam bagian-bagian yang harus dipelajari dan dilatih secara terpisah. Sebaliknya metode keseluruhan membuktikan bahwa belajar yang paling efektif mengambil tempat saat tugas itu diterima dan dijalankan secara keseluruhan.

f. Motivasi dan kesiapan untuk belajar
Kesiapan peserta didik secara fisik(umur dan fisik yang cukup kuat) dan psikis (memiliki pengalaman awal) menjadi modal dasar yang harus dipersiapkan sebelum belajar.

g. Penguatan belajar
Apabila seorang individu telah melakukan sesuatu secara benar, tindakan ini sesegera dikuatkan sehingga perbuatan itu akan diulang lagi secara benar dan akhirnya ditetapkan sebagai sebuah perilaku respon terhadap stimulus.

h. Transfer belajar
Transfer dapat didefinisikan sebagai pengaruh latihan dari tugas yang satu ke tugas yang lainnya. Jadi sesuatu yang sudah dipelajari dalam satu aktivitas skill dapat ditransfer ke aktivitas lainnya.

i. Latihan skill
Hukum latihan adalah koneksitas antara stimulus dan respons yang diinginkan. Latihan harus dibedakan dengan repitisi(pengulangang), dan harus melibatkan penghargaan dan materi pelajaran baru.

4. Metode Kepemimpinan dalam Aktivitas Khusus

Ada teori mengajar yang lebih efektif daripada teori belajar. Setiap bentuk aktivitas dan situasi belajar menentukan metode kepemimpinan yang sesuai. Beberapa penggunaan pedoman untuk pemimpin rekreasi dalam beberapa aktivitas program, meliputi permainan, seni dan kerajinan tangan, olahraga, music, tari, drama dan aktivitas alam. Aktivitas khusus ini bisa diperoleh di lapangan permainan yang disediakan sekolah dan atau di puat-pusat program kegiatan yang ada di lingkungan masyarakat.

5. Kepemimpinan Permainan di Lapangan Permainan

Kepemimpinan permainan di lapangan permainan ini akan memfokuskan pada salah satu tipe situasi permainan, seperti permainan kejar-kejaran, lari estafet dan permainan bola sederhana. Namun, sebelum melakukan semua aktivitas ini perlu menentukan hal-hal sebagai berikut;


a. Tujuan permainan
Tujuan adalah penting untuk mengetahui mengapa anda ikut serta dalam aktivitas permainan. Adapun tujuan permainan di lapangan sebagai berikut:
· Permainan memberikan manfaat bagi kelompok atau tim
· Permainan memberi kesempatan untuk bersaing dan menguji kelincahan, kekuatan, skill dan intelengensi, dibawah control lingkungan
· Mengawasi permainan dapat digunakan untuk membantu mengembangkan karakteristik
· Permainan memberikan kepuasan secara fisik
· Permainan dapat menghemat ruang dan alat.

b. Memilih permainan
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan sebagai berikut:
· Permainan seharusnya dipilih berdasarkan pada kelompok umur dari pada jenis kelamin
· Permainan untuk anak diatas delapan tahun harus lebih sulit, lebih lama, dan melibatkan permainan tin untuk kelompok umur diatasnya
· Permainan seharusnya dipilih berdasarkan ruang/tempat dan jumlah peserta didik
· Memilih permainan seharusnya mempertimbangkan cuaca

c. Mempersiapkan permainan
Untuk menjadi seorang pemimpin permainan yang memadai, yakinlah bahwa anda benar-benar telah siap sebelum permainan itu dimulai, dengan cara-cara sebagai berikut:
· Pilihlah beberapa permainan yang cocok dengan umur, kemampuan dan minat dari kelompok tersebut
· Kaji kembali permainan yang sudah anda kuasai
· Yakinlah bahwa peralatan yang dibutuhkan tersedia
· Beritakunkanlah kepada peserta didik sebelum mereka terlibat dalam kegiatan rekreasi yang akan anda berikan

d. Mengorganisasi kelompok atau tim
Apabila jumlah peserta didiknya banyak, buatkan dalam beberapa kelompok yang lebih kecil. Hal ini dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
· Cara yang umum membagi kelompok dengan jumlah dan kemampuan dari setiap kelompok tidak terlalu berbeda
· Membariskan peserta didik dari yang tinggi badannya paling tinggi hingga terendah
· Cegah jika terjadi pemilihan kelompok yang di buat oleh peserta didik
· Sebelum permainan dimulai, yakinlah bahwa semua tim mempunyai jumlah yang sama

e. Mengajarkan permainan

Ada beberapa cara mengajarkan permainan
· Setelah membuat kelompok atau formasi, yakinlah bahwa anda memdapat perhatian yang sama dari peserta didik
· Saat permainan berlangsung, tepatkan posisi anda agar dapat perhatian dari semua peserta didik
· Jangan membuat uraian yang bertele tele
· Apabila peserta didik agak bingung berikanlah kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan
· Buatlah peraturan untuk aktivitas tersebut.
· Jika aktivitas kurang memuaskan, hentikan dulu. Demonstrasikan kembali teknik yang benar dan jelaskan aturan mainnya. Kemudian lakukan lagi
· Apabila permainan itu menghasilkan skor, beri tahu skor setiap saat.

f. Mengontrol perilaku peserta didik
Untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan,maka pmimpin rekreasi perlu mengontrol hal-hal sebagai berikut;
· Peserta didik bisa berekspresi secara alami, namun jangan sampai tidak terkontrol
· Yakinlah bahwa alat yang digunakan dengan benar
· Kondisi umum harus dipelihara 
· Kemungkinan peserta didik berperilaku kurang baik jika timnya mengalami kekalahan, maka pemimpin rekreasi harus memberikan dorongan atau semangat.

g. Gaya kepemimpinan
Gaya kepemimpinan kelompok dapat membantu menentukan keberhasilan dalam permainan. Maka, pemimpin rekreasi harus;
· Selalu mencoba dengan penuh opitmis dan positif
· Memberikan dorongan positif
· Berbicara dengan jelas dan memberikan komando sewaktu-waktu
· Percaya diri
· Memberikan kesempatan kepada setiap peserta didikuntuk berpartisipasi

h. Mengevaluasi permainan
Mengevaluasi permainan merupakan kegiatan yang harus dilakukan apabila permainan itu berakhir. Sebagai pemimpin rekreasi seharusnya mengkaji ulang secara teliti mengenai permainan itu.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan diatas, dapat disimpulka sebagai berikut:
§ Kepemimpinan sebagai kamampuan untuk mempengaruhi orang lain guna mencapai tujuan secara sungguh-sungguh
§ Kepemimpinan pendidikan rekreasi adalah suatu proses kerja secara efektif bersama-sama dengan peserta didik untuk mencapai tujuan bersama.
§ Pemimpin rekreasi harus mampu memanfaatkan peluang yang dapat diajarkan kepada peserta didik

Hal-hal yang perlu dilakukan oleh pemimpin rekreasi sebelum melakukan aktivitasnya adalah menentukan tujuan, memilih permainan, mempersiapkan permainan, mengorganisasi kelompok, mengajarkan permainan, mengontrol perilaku peserta didik, menentukan gaya kepemimpinan dan mengevaluasi permainan.

3.2 Saran

Di dalam pembuatan makalah ini pasti masih ada kesalahan-kesalahan disana-sini. Perlunya bimbingan dan pembelajaran yang lebih mengenai pembuatan makalah ini. Semua kritik atau saran yang bersifat membangun pasti akan kami terima demi kelangsungan pembuatan makalah dimasa-masa mendatang.

DAFTAR PUSTAKA

§ Nawawi, Hadari. 1984. Administrasi Pendidikan. Jakarta: PT Gunung Agung. 
§ http: //kepemimpinan-fisipuh.blogspot.co.id/2009/03/pengertian-pemimpin-dalam-bahasa.html
§ https: //arham892.blogspot.co.id/2016/09/kepemimpinan-dalam-pendidikan-jasmani.html

DOWNLOAD MAKALAH DI ATAS SIAP PAKAI VERSI DOC

Makalah Pembuatan Kerupuk Buah Naga

Makalah Kerupuk Buah Naga

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas Hidayahnya sehingga  kami dapat  menyelesaikan  makalah ini. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah membantu  memberikan motivasi dan inspirasi  dalam penyusunan makalah ini.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Banyuwangi, Maret 2017
Penyusun

DAFTAR ISI

Kata pengantar
Daftar isi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
A. Bahan-bahan Pembuatan Kerupuk Buah Naga
B. Cara membuat Kerupuk Buah Naga
C. Keuntungan dalam membuat Kerupuk Buah Naga

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
kerupuk adalah adalah satu makanan cemilan yang tidak asing bagi masyarakat indonesia disini kami coba hadirkan viaran kerupuk sehat yang berbahan buah naga asli. Buah naga memiliki banyak sekali manfaat bagi manusia. Buah naga memiliki beragam jenis dan warna buah yang berbeda diantaranya seperti buah naga putih, buah naga kuning, buah naga hitam, dan dan buah naga berwarna merah. 

Disamping itu, disini kami akan menjelaskan tentang pemanfaatan buah naga khususnya buah naga merah. Yang biasanya buah naga merah digunakan sebagai makanan pendamping, sebagai jus, atau pun salad. Dan disini kami akan memanfaatkan buah naga sebagai kerupuk yang gurih dan enak.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa saja bahan-bahan untuk membuat kerupuk buah naga?
2. Bagaimana langkah-langkah untuk membuat kerupuk buah naga?
3. Apa saja keuntungan dalam membuat kerupuk buah naga?

C. Tujuan 
Berikut tujuan makalah ini :
1. Untuk menjelaskan bahan-bahan apa saja untuk membuat kerupuk buah naga.
2. Untuk  menjelaskan langkah-langkah untuk membuat kerupuk buah naga
3. Untuk  mengetahui keuntungan dalam membuat kerupuk buah naga.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Bahan-bahan Pembuatan Kerupuk Buah Naga
1. Dua buah naga yang sudah dipotong dan diiris kotak-kotak seperti dadu
2. Nasi kira-kira 1 kg
3. Tepung kanji 1/2 kg
4. Garam secukupnya
5. Bawang putih 2 siung
6. Daun pisang

B. Cara membuat Kerupuk Buah Naga 
1. Cuci nasi dengan air bersih, peras dan tiriskan
2. Haluskan bawang putih dan garam secukupnya
3. Blender dua buah buah naga yang sudah dipotong dan tambahkan sedikit air
4. Campurkan nasi yang sudah dicuci dengan hasil blederan buah naga
5. Tambahkan bumbu yang sudah di haluskan tadi
6. Tambahkan tepung kanji dan aduk hingga adonan menjadi kalis
7. Bentuk adonan menjadi seperti tabung dan masukkan kedalam daun pisang /plastik seperti lontong
8. Kukus adonan selama 30 menit
9. Setelah 30 menit, angkat adonan dan kupas daun pisang selagi masih panas
10. Tiriskan dan dinginkan beberapa menit
11. Setelah dingin iris tipis adonan semacam kerupuk
12. Jemur kerupuk sampai kering
13. Setelah kering, goreng kerupuk di dalam minyak yang panas

C. Keuntungan dalam membuat Kerupuk Buah Naga

Di wilayah Banyuwangi merupakan sentral produksi buah naga. Karena  banyaknya petani yang menanam tanaman jenis ini, membuat jenis buah ini menjadi murah harga jualnya pada musim penen raya buah naga kualitas super di jual dengan harga 5.000-7.000 per kilo-nya murah bukan?. tapi kalau tidak musim harga Rp. 25.000 -Rp. 35.000.

Ini adalah peluang ide  gagasan utama  mengolah buah naga menjadi produk yang lebih bernilai dan tahan jangan waktu cukup lama. karena kalau buah dijual  untuk dikonsumsi langsung berupa buah  maka tidak akan tahan lama karena kandungan air yang tinggi dan kulit yang mudah layu sehingga tidak bisa disimpan dalam jangka waktu lama .

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa :
1. Setiap manusia itu pasti mempunyai sifat kreatif terhadap dirinya sendiri, tinggal bagaimana orang itu mengolahnya.
2. Membuat sesuatu hal yang unik atau pun menarik tidak selalu menggunakan bahan atau banrang yang mahal dan sulit untuk dicari, akan tetapi bisa dibuat dengan cara menggunakan bahan dan barang yang seadanya.
3. Dengan sering kalinya kita berbuat sikap yang kreatif dan dapat membuat apapun dengan bahan dan barang yang seadanya, itu akan membuat diri kita selalu menerima apa adanya di dalam hidup dan sifat sikap kreatif selalu menyertai.

B. Saran
Dari uraian pembahasan, penulis memberikan saran sebagai berikut:
1. Diperlukan kesadaran dari pembaca agar tidak bersikap konsumtif dalam hidup, tetapi juga diperlukannya sikap produktif.
2. Penggunaan hal-hal yang sederhana bukan lah sebuah masalah, tetapi  berfikirlah untuk menjadikan bahan yang sederhana menjadi bahan yang baru dan dapat memberikan keuntungan bagi kita semua.

Dengan semangat kerja keras yang kami satukan sehingga makalah ini sudah siap. Demikian hasil karya ilmiah tentang Pemanfaatan buah naga dalam kehidupan sehari-hari yang telah kami buat, kurang lebihnya harap dimaklumi dan terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA
http://bnetpwj.blogspot.co.id/2016/02/makalah-manfaat-dan-pembudiyaan-buah.html

Makalah Imbuhan Lengkap - Bahasa Indonesia

MAKALAH
BAHASA INDONESIA
“IMBUHAN

KATA PENGANTAR

     Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan limpahan rahmatNya maka kami telah menyelesaikan sebuah karya tulis dengan tepat waktu.
            Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul BAHASA INDONESIA “IMBUHAN” yang menurut kami dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita selaku mahasiswa untuk memahami kata imbuhan.
            Melalui kata pengantar ini kami lebih dahulu meminta maaf dan memohon permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang kami buat kurang tepat atau menyinggung perasaan pembaca.
            Dengan ini kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga Allah SWT. memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat.

Banyuwangi, 2016


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
I  PENDAHULUAN
    1.1  Latar Belakang
    1.2  Rumusan Masalah
    1.3  Manfaat Penulisan

II PEMBAHASAN
    2.1 Pengertian imbuhan
    2.2 Fungsi imbuhan
    2.3 Jenis-jenis imbuhan   
    
III PENUTUP
    3.1 Kesimpulan    
          3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Imbuhan adalah bunyi – bunyi yang ditambahkan kepada kata dasar untuk mengubah atau menambahkan makna pada kata dasarnya. Imbuhan – imbuhan tersebut bisa diletakkan di awal (prefiks), di tengah/sisipan (infiks), akhir (suffikis), dan awalan-akhiran (konfiks) kata dasar. Jenis – jenis imbuhan tersebut mempunyai fungsi yang berbeda – beda.

1.2 Rumusan Masalah

1.    Apa pengertian imbuhan?
2.    Apa fungsi Imbuhan?
3.    Apa saja jenis-jenis Imbuhan?

1.3 Tujuan

Tentunya makalah ini memiliki manfaat baik bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya. Adapun manfaatnya adalah sebagai berikut:
·    Dapat memahami pengertian imbuhan dan fungsinya
·    Dapat memahami jenis-jenis imbuhan



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian imbuhan

Kridalaksana (2009; 28-31) menyebutkan bahwa afiksasi adalah proses yang mengubah leksem menjadi kata kompleks. Kridalaksana (1989:31-83) mendeskripsikan afiksasi sebagai proses atau hasil penambahan afiks pada dasar. Richard (dalam Putrayasa; 2008;5) mengatakan bahwa afiksasi atau pengimbuhan adalah proses pembentukan kata dengan membubuhkan afiks (imbuhan) pada bentuk dasar, baik bentuk dasar tunggal maupun kompleks. Ramlan (1987:49) menyebut proses afiksasi sebagai proses pembubuhan afiks. Menurutnya, suatu satuan yang dilekati afiks disebut bentuk dasar. Afiksasi menurut Samsuri (1985: 190), adalah penggabungan akar kata atau pokok dengan afiks.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa afiksasi adalah proses pembentukan kata dengan membubuhkan afiks (imbuhan) pada bentuk dasar, baik bentuk dasar tunggal maupun kompleks untuk membentuk kata baru dengan arti yang berbeda.

2.2 Fungsi imbuhan

Pemakaian imbuhan dapat mengubah kelas kata. Kata benda misalnya, setelah diberi imbuhan bisa menjadi kata kerja, kata sifat, atau kata lainnya.
Contoh:
·    batu (benda) -> membatu (sifat)
·    indah (sifat) -> seindah-indahnya (keterangan)
·    mandi (kerja) -> pemandian (benda)

Fungsi imbuhan adalah:

·    Membentuk kata benda, yakni peN-, pe-, per-, ke-, -isme, -wan, -sasi, -tas, peN-an, pe-an, per-an, dan ke-an. Contoh: pelaut, penyapu, wartawan, dll.
·    Membentuk kata kerja, yakni me-, ber-, per-, ter-, di, -kan, ter-kan,dan di-i. Contohnya: melaut berlayar, terlihat diminum, bawakan, lempari, menaiki.
·    Membentuk kata sifat,yakni –I, -wi,-iah, dan –is. Contohnya: manusiawi, duniawi, ilmiah, agamis
·    Membentuk kata bilangan yakni se- dan ke-. Contohnya: sepuluh dan kedua.
·    Membentuk kata keterangan, se-nya ; -nya ; -an, Contoh: sepertinya, habis-habisan, seindah-indahnya, dll.

2.3 Jenis-jenis imbuhan
AWALAN

Imbuhan yang diletakkan pada awal kata dasar disebut dengan awalan (prefiks). Ada beberapa imbuhan awalan, di antaranya adalah:

me-
Imbuhan me- berfungsi untuk membentuk kata kerja aktif pada kata dasarnya. Imbuhan me- bisa berubah – ubah menjadi beberapa bentuk sesuai dengan kata dasar yang diikutinya.
Contoh:
Dobrak + men - = Mendobrak
Pencuri itu mendobrak pintu rumahku dan mencuri beberapa barang berharga.

Ambil + meng- = Mengambil
Aku mengambil buku yang tertinggal di rumah.

Sapa + meny- = menyapa
Setiap hari aku menyapa dirinya.

Bimbing + mem- = membimbing
Tugas seorang guru adalah membimbing anak muridnya.

kecil + menge- = mengecil
Sepatuku mengecil karena kakiku membesar.

ber-
Imbuhan ber- juga bisa berubah menjadi dua bentuk yaitu bel- dan be-. Apabila imbuhan ber- bertemu dengan kata dasar yang diawali dengan konsonan, maka ber- menjadi be.
Contoh :
Kerja + ber- = bekerja
Ajar + ber- = belajar.

di-
Imbuhan di- tidak memiliki perubahan bentuk dan berfungsi untuk membentuk makna pasif pada kata dasarnya.
Contoh:
Buang + di- = dibuang
Sampah – sampah dibuang ke tempat sampah oleh ibu.

ter-
Imbuhan ter- juga tidak memiliki perubahan khusus, tetapi memiliki beberapa fungsi di antaranya adalah:
Sebagai penunjuk makna ketidaksengajaan.
Contoh :
buang + ter- = terbuang ; Barangku terbuang ke kotak sampah ketika aku tidak ada di rumah.

Sebagai pembentuk kata sifat
Contoh :
Baik + ter- = terbaik ; kelasku menjadi kelas yang terbaik di sekolah.

Sebagai pembentuk kata pasif
Contoh :
Injak + ter- = terinjak ; kakiku terinjak oleh Budi


pe-
Imbuhan pe- memiliki beberapa macam bentuk perubahan, di antaranya adalah peng-, penye-, dan per-. Imbuhan ini juga memiliki fungsi sebagai berikut:
Sebagai penunjuk pelaku :
pekerja, pelajar, pembohong, pemberi, pengurus, pembantu, dan lain – lain.
Aku adalah seorang pelajar di SMAN 1 Bagun Pagi.

Sebagai pembentuk kata perintah : Perlambat, pertajam, perindah, percantik, dan lain – lain.
Percantik lukisan itu!

Sebagai penunjuk sifat : pemalu, pemaaf, dan lain – lain.
Dia adalah anak yang pemalu.

Sebagai penunjuk alat: penghapus, penggaruk, penggoreng, penggiling, dan lain – lain.
Ibu menggunakan panci penggoreng sebagai wadah.

ke-
Imbuhan ke- tidak memiliki bentuk perubahan dan berfungsi sebagai penunjuk urutan.
Contoh : Dua + ke = kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya.
Sisipan
Sisipan adalah imbuhan yang diletakkan di tengah – tengah kata dasar. Imbuhan ini diantaranya adalah –el-, -em-, dan –er.
Contoh :
Getar + er = gemetar.
Tali – el = Temali.

AKHIRAN
Akhiran adalah imbuhan yang diletakkan pada bagian akhir kata dasar dan disebut juga dengan suffiks. Ada beberapa jenis imbuhan ini, antara lain:

-kan/-i
Imbuhan - imbuhan ini sebagai pembentuk makna perintah.
Contoh : ambilkan, datangkan, bawakan, tuangkan, datangi, diami, dan lain – lain

-an
Imbuhan –an berfungsi untuk:
Sebaagi penunjuk bagian:
satuan, kiloan, dan lain – lain

Sebagai penunjuk alat:
timbangan, angkutan

Sebagai penunjuk tempat:
lapangan, lautan, daratan, dan lain – lain.


-pun
Imbuhan ini berfungsi untuk membentuk makna juga.
Contoh: akupun, Merekapun, kamipun, dan sebagainya.

-kah
Imbuhan ini berfungsi untuk menegaskan kata dasarnya.
Contoh: Mudahkah, benarkah, iyakah, dan lain – lain.
Awalan dan Akhiran
Imbuhan ini disebut dengan konfiks dan diletakkan pada bagian awal dan akhir kata dasar. Fungsi imbuhan konfiks di antaranya adalah:

me-kan
Sebagai pembentuk makna aktif
Contoh : Membanggakan, membangunkan, mengantarkan, dan lain – lain.

pe-a
Sebagai pembentuk makna kata benda
Contoh: Pengampunan, pengasingan, pengaduan, dan lain – lain.

se-nya
Sebagai kata pengulangan
Contoh: Sepandai – pandainya, sebaik – baiknya, semahal – mahalnya, dan lain – lain.




BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut.

Afiksasi adalah proses pembentukan kata dengan membubuhkan afiks (imbuhan) pada bentuk dasar, baik bentuk dasar tunggal maupun kompleks untuk membentuk kata baru dengan arti yang berbeda Pemakaian imbuhan dapat mengubah kelas kata. Kata benda misalnya, setelah diberi imbuhan bisa menjadi kata kerja, kata sifat, atau kata lainnya.

Jenis – jenis imbuhan ada 4 macam
Awalan
Sisipan
Akhiran
Awalan dan akhiran

3.2 Saran

Di dalam pembuatan makalah ini pasti masih ada kesalahan-kesalahan disana-sini. Perlunya bimbingan dan pembelajaran yang lebih mengenai pembuatan makalah ini. Semua kritik atau saran yang bersifat membangun pasti akan kami terima demi kelangsungan pembuatan makalah dimasa-masa mendatang.



DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Afiks
http://www.prbahasaindonesia.com/2015/11/imbuhan-pengertian-jenis-dan-contoh.html
http://belajarbahasa-bahasaindonesia.blogspot.co.id/2012/05/afiksasi-imbuhan.html
http://restumariam.blogspot.co.id/2012_09_01_archive.html
http://bnetpwj.blogspot.co.id/2016/11/makalah-imbuhan-lengkap-bahasa-indonesia.html






MAKALAH KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA BAYI DAN ANAK - LENGKAP


" KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA BAYI DAN ANAK "

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat ALLAH SWT. Yang mana berkat rahmatnya kami dapat menyusun makalah ini dengan lancar.

Makalah ini merupakan makalah tentang “Komunikasi Terapeutik Bayi dan  Anak”. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnanan dan banyak kekurangannya, untuk itu kami mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun guna kesempurnaan makalah ini. Akhirnya makalah ini dapat memberikan pemikiran serta kelancaran tugas kami selanjutnya dan dapat berguna bagi semua pihak Amin.

Banyuwangi , September 2016



DAFTAR ISI

Kata Pengantar 
Daftar Isi
Bab I Pendahuluan 
1.1    latar Belakang 
1.2    Rumusan Masalah 
1.3    Tujuan 
1.4    Manfaat 
Bab II Tinjauan Pustaka 
2.1  Perkembangan Komunikasi Pada Bayi dan Anak 
2.2 Bentuk Komunikasi Prabicara
2.3 Peran Bicara Dalam Komunikasi 
2.4  Teknik Komunikasi Dengan Bayi dan Anak :
Tekhnik Verbal dan Non Verbal .
2.5 Penerapan Strategi Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik
Pada Bayi dan Anak
Bab III Penutup 
3.1 Kesimpulan 
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA 


BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang

Menurut (smart 1998) komunikasi terapeutik adalah merupakan hubungan interpersonal antara perawat dan klien. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kebutuhan pasien.(siti fatmawati, 2010)

Komunikasi terapeutik adalah yang dilakukan atau dirancang untuk tujuan terapi. Seorang penolong atau perawat dapat membantu klien mengatasi masalah komunikasi yang dihadapinya. (suryani, 2005).

Menurut Purwanto yang dikutip oleh (Mundakir 2006), komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi professional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien, (Siti Fatmawati 2010).

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien, Indrawati, dalam Siti Fatmawati, (2010).

Dari beberapa pengertian di atas dapat dipahami bahwa komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dilakukan seorang perawat dengan teknik-teknik tertentu yang mempunyai efek penyembuhan. Komunikasi terapeutik merupakan salah satu cara untuk membina hubungan saling percaya terhadap pasien dan pemberian informasi yang akurat kepada pasien, sehingga diharapkan dapat berdampak pada perubahan yang lebih baik pada pasien dalam menjalanakan terapi dan membantu pasien dalam rangka mengatasi persoalan yang dihadapi pada tahap perawatan.


1.2 Rumusan Masalah
1.        Bagaimana Perkembangan Komunikasi Pada Bayi dan Anak
2.        Bagaimana Bentuk Komunikasi Prabicara
3.        Apa Peran Bicara Dalam Komunikasi
4.        Bagaimana Teknik Komunikasi Dengan Bayi dan Anak :
           Tekhnik Verbal dan Non Verbal
5.        Bagaimana Penerapan Strategi Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik
           Pada Bayi dan Anak

1.3     Tujuan
1.        Agar mahasiswa tahu bagaimana perkembangan komunikasi pada bayi dan anak
2.        Agar mahasiswa mengetahui bagaimana bentuk komunikasi prabicara
3.        Agar mahasiswa tahu  apa peran bicara dalam komunikasi
4.        Agar mahasiswa tahu Bagaimana teknik komunikasi dengan bayi dan anak :
            tekhnik verbal dan non verbal
5.        Agar mahasiswa tahu bagaimana penerapan strategi pelaksanaan komunikasi terapeutik
            pada bayi dan anak

1.4     Manfaat
1.        Bagi Mahasiswa
Sebagai acuan maupun sebagai penambah ilmu pengetahuan khususnya dalam mempelajari komunikasi terapeutik pada bayi/anak

2.        Bagi Instasi Pendidikan
Dapat digunakan sebagai tambahan dan acuan pendidikan yang lebih unggul dan lebih bermutu
3.        Bagi Pembaca
Dapat memberikan wawasan yang lebih luas tentang komunikasi terapeutik pada bayi/anak



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 

2.1   PERKEMBANGAN KOMUNIKASI PADA BAYI DAN ANAK


1.         Masa  bayi (0-1 tahun)
Bayi belum dapat mengekspresikan perasaan dan pikirannya dengan kata – kata oleh karena itu, komunikasi pada bayi lebih banyak menggunakan komunikasi nonverbal. Pada saat lapar, haus, basah, dan perasaan yang tidak nyaman lainnya, bayi hanya bisa mengekspresikan dengan cara menangis. Walau demikian, sebenarnya bayi dapat berespon terhadap tingkah laku orang dewasa yang berkomunikasi dengannya secara nonverbal, misalnya memberikan sentuhan, mendekap, menggendong, berbicara dengan lemah lembut.

Ada beberapa respon nonverbal yang bisa ditunjukkan bayi, misalnya menggerakkan badan, tangan, dan kaki. Hal ini terutama terjadi pada bayi usia kurang dari enam bulan sebagai cara menarik perhatian orang. Stranger anxiety atau cemas dengan orang asing yang tidak dikenalnya adalah ciri perilaku pada bayi usia lebih dari enam bulan., dan perhatiannya berpusat pada ibunya. Oleh karena itu, perhatikan saat berkomunikasi dengannya. Jangan langsung ingin menggendong atau memangkunya karena bayi aakan merasa takut. Lakukan komunikasi terlebih dahulu dengan ibunya, dan/atau mainan yang dipegangnya. Tunjukkan bahwa kita ingin membina hubungan yang baik denganya dan ibunya.
 ( Yupi Supartini, 2004 : 81-82)

2.         Masa Balita  (sampai 5 tahun)
Karakteristik anak usia balita (terutama anak usia di bawah tiga tahun) mempunyai sikap egosentris,. Selain itu, anak juga memiliki perasaan takut pada ketidaktahuannya sehingga anak perlu diberi tahu apa yang akan terjadi padanya.

Dari aspek bahasa, anak belum mampu berbicara fasih. Oleh karena itu saat menjelaskan, gunakan kata – kata yang sederhana, singkat dan gunakan istilah yang dikenalnya. Posisi tubuh yang baik saat berbicara padanya adalah jongkok, duduk dukursi kecil, atau berlutut sehingga pandangan mata kitz akan sejajar denganya.
( Yupi Supartini, 2004 : 83-84)

3.         Anak Usia 5 sampai 8 tahun
Anak usia ini sangat peka terhadap stimulus yang dirasakannya akan mengancam keutuhan tubuhnya. Oleh karena itu, apabila perawat akan melakukan suatu tindakan, ia akan bertanya mengapa dilakukan, untuk apa, dan bagaimana caranya dilakukan ? anak membutuhkan penjelasan atas pertanyaanya. Gunakan bahasa yang dapat dimengerti anak dan berikan contoh yang jelas sesuai dengan kemampuan kognitifnya. ( Yupi Supartini, 2004 : 84)

4.         Anak usia 8 sampai 12 tahun
Anak usia sekolah sudah lebih mampu berkomunikasi dengan orang dewasa. Perbendaharaan kata sudah lebih banyak dikuasai dan anak sudah mampu berpikir secara konkret. Apabila akan melakukan tindakan, perawat dapat menjelaskanya dengan mendemontrasikan pada mainan anak. Misalnya, bagaimana perawat akan menyuntik diperagakan terlebih dahulu pada bonekanya. ( Yupi Supartini, 2004: 84)

5.         Anak usia remaja

Seperti telah disebutkan pada beberapa bagian di kegiatan belajar sebelumnya, fase remaja adalah masa transisi atau peralihan dari akhir masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Dengan demikian, pola pikir dan tingkah lakunya merupakan peralihan dari anak-anak menjadi orang dewasa juga. Anak harus diberi kesempatan untuk belajar memecahkan masalah secara positif. Apabila anak merasa cemas atau stress jelaskan bahwa ia dapat mengajak bicara teman sebayanya dan/ atau orang dewasa yang ia percaya, termasuk perawat yang selalu bersedia menemani dan mendengarkan keluhanya. Menghargai keberadaan identitas diri dan harga dirinya merupakan hal yang prinsip untuk diperhatikan dalam berkomunikasi, tunjukka ekspresi wajah yang bersahabat denganya, jangan memotong pembicaraan saat ia sedang mengekspresikan perasaan dan pikiranya, dan hindari perkataan yang menyinggung harga dirinya. Kita harus menghormati privasinya dan beri dukungan pada apa yang telah dicapainya secara positif dengan selalu memberikanya penguatan positif (misalnya, memberi pujian).  ( Yupi Supartini, 2004 : 84-85)

2.2  BENTUK KOMUNIKASI PRABICARA

1.      Tangisan

Tangisan kelahiran bayi yang memecahkan kesunyian, membuat sebaris senyum kesyukuran terpancar pada wajah seorang ibu. Tangisan seorabng bayi merupakan bentuk komunikasi dari seorang bayi kepada orang dewasa dimana dengan tangisan itu, bayi dapat memberikan pasan dan orang dewasa menangkap pesan yang diberikan sang bayi.

Pada awal kehidupan paska lahir, menangis merupakan salah satu cara pertama yang dapat dilakukan bayi untuk berkomunikasi dengan dunia luar. Melalui tangisan dia memberi tahu kebutuhannya seperti lapar, dingin, panas, lelah, dan kebutuhan untuk diperhatikan. Bayi hanya akan menangis bila yia merasa sakit atau tertekan. Bayi yang sehat dan normal frekuensi tangisan menurun pada usia enam bulan karena keinginan dan kebutuhan mreka cukup terpenuhi. Frekuensi tangis seharusnya menurun sejalan dengan meningkatnya kemampuan bicara.

Perawat harus banyak berlatih mengenal macam – macam arti tangisan bayi untuk memenuhi kebutuhannya dan mengajarkan kepada ibu, karena ibu muda memerlukan bantuan ini.

2.        Ocehan dan celoteh

Bentuk komunikasi prabicara disebut “ocehan” (cooing) atau “celoteh” (babbling). Ocehan timbul karena bunyi eksplosif awal yang disebabakan oleh perubahan gerakan mekanisme ‘suara’. Ocehan ini terjadi pada bulan awal kehidupan bayi seperti : merengek, menjerit, menguap, bersin, menangis dan mengeluh.
Sebagian ocehan akan berkembang menjadi celoteh dan sebagian akan hilang. Sebagian bayi mulai berceloteh pada awal bulan kedua, kemudian meningkat cepat antara bulan ke enam dan kedelapan. Celoteh merupakan indikator mekanisme perkembangan otot saraf bayi.

Nilai celoteh :
a)        Berceloteh adalah praktek verba sebagsi dasar perkembangan gerakan terlatih yang dikehendaki   dalam bicara. Celoteh mempercepat ketrampilan berbicara.

b)        Celoteh mendorong keinginan berkomunikasi dengan orang lain. Berceloteh membantu bayi merasakan bahwa dia merupakan kelompok sosial.

3.        Isyarat

Yaitu gerakan anggota badan tertentu yang berfungsi sebagai pengganti atau pelengkap bicara. Bahasa isyarat bayi dapat mempercepat komunikasi dini pada anak.

Contoh :
a)        Mendorong puting susu dari mulut artinya kenyang atau tidak lapar.
b)        Tersenyum dan mengacungkan tangan yang berarti ingin digendong
c)        Menggeliat, meronta, menangis pada saat ibu mengenakan pakaiannya atau memandikannya. Hal ini berarti bayi tidak suka akan pembatasan gerak.

4.        Ungkapan emosional
Adalah melalui perubahan tubuh dan roman muka.
Contoh :
a)        Tubuh yang mengejang atau gerakan – gerakan tangan atau kaki disertai jeritan dan wajah tertawa adalah bentuk ekspresi kegembiraan pada bayi.

b)        Menegangkan badan, gerakan membanting tangan atau kaki, roman muka tegang dan menangis adlah bentuk ungkapan marah atau tidak suka.(Kemenkes,2013)

2.3  PERAN BICARA DALAM KOMUNIKASI


1.        Pada Bayi

a)        Merupakan ungkapan sayang pada bayi
b)        Mengajak bicara bayi akan merangsang kinerja saraf otak dan merangsang pendengaran
            untuk merangsang pada indra pendengaran
c)        Membuat rasa nyaman pada bayi sehingga bayi tidak merasa diabaikan dan merasa selalu
          diperhatikan.
d)       Melatih bayi untuk mengucapkan kata-kata sederhana, sehingga lambat laun bayi akan menirukanya

2.        Pada Anak

a)        Persiapan Fisik
Persiapan ini tergantung pada pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama dalam kematanganan mekanisme bicara. Pertumbuhan organ-organ bicara yang kurang sempurna sangat mempengaruhi kemampuan bicara anak.

b)        Persiapan Mental
Tergantung pada kematangan otak ( asosiasi otak), yang berkembang 1-18 bulan, saat yang tepat diajak bicara. Meskipun bayi tidak bisa merespon dengan kata-kata, namun suara atu bicara yang kita tunjukkan pada bayi bayi akan menjadi stimulus bayi dan akan direspon dengan bahasanya sendiri, misalnya dengan senyum atau tertawa.

c)        Motivasi dan Tantangan
Ajaran dan dorongan bayi untuk mengucapkan dan apa yang bisa diucapkan oleh bayi. Dalam hal ini perlu disadari bahwa yang diucapkan bayi belum sempurna, mungkin yang keluar baru berupa suara-suara atau kata-kata yang belum jelas sehingga butuh kesabaran dan ketelatenan dalam mengajarkan bicara kepada bayi atau anak.

d)       Model Untuk Ditiru
Salah satu faktor yang mempengaruhi kemapuan bicara adalah stimulus suara. Ucapan-ucapan yang sering kita sampaikan kepada bayi menjadi model yang bisa ditiru oleh bayi pada perkembangan bicara selanjutnya. Dengan demikian ucapan yang kita sampaikan hendaknya ucapan yang baik dan mendidik.

e)        Bimbingan
Upaya untuk membantu ketrampilan bicara anak dapat dilakukan dengan cara : menyediakan model yang baik, mengatakan dengan perlahan dan jelas, serta membetulkan kesalahan yang diucapkan anak.

f)         Kesempatan Praktek Atau Untuk Berlatih
Agar bayi atau anak dapat segera bicara, maka bayi perlu diajarkan atau diberikan untuk meniru kata-kata yang sering kita ucapkan.

2.4     TEKHNIK KOMUNIKASI DENGAN BAYI DAN ANAK : TEKHNIK VERBAL DAN NON VERBAL

1.        Teknik Verbal


a)        Melalui orang atau pihak ketiga

Khususnya mengahadapi anak usia bayi dan todler, hindari berkomunikasi secara langsung pada anak, melainkan gunakan pihak ketiga yaitu dengan cara berbicara terlebih dahulu dengan orang tuanya yang sedang berapa disampingnya, mengomentari pakaian yang sedang dikenakanya. Hal ini pada dasarnya adalah untuk menanamkan rasa percaya anak pada perawatan terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan yang menjadi tujuan.
 (Yupi Supartini, 2004 : 86)
         
b)        Bercerita sebagai alat komunikasi
Dengan bercerita kita bisa menyampaikan pesan tertentu pada anak misalnya, bercerita tentang anak pintar dan saleh yang sedang sakit yang mematuhi nasihat orang tua dan perawat sehingga diberi kesembuhan oleh ALLAH Yang Mahaesa. Jadi, ini cerita harus disesuaikan dengan kondisi anak dan pesan yang ingin kita sampaikan kepada anak. selama bercerita gunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti anak. penggunaan gambar-gambar yang menarik dan lucu saat bercerita akan membuat penyampaian cerita lebih menarik bagi anak sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima anak secara efektif. (Yupi Supartini, 2002 : 86-87)

c)        Fasilitasi anak untuk berespons
Satu hal yang penting yang harus diingat, selama berkomunikasi jangan menimbulkan kesan bahwa hanya kita yang dominan berbicara pada anak, tetapi fasilitasi juga anak untuk berespons terhadap pesan yang kita sampaiakan. Dengarkan ungkapanya dengan baik, tetapi hati-hati dalam merefleksikan ungkapan yang negatif. Misalnya, saat anak bicara, “saya mau pulang, saya tidak ada suka tinggal di rumah sakit “. Untuk merespons perkataan anak seperti ini katakan, “ tentu saja kamu akan pulang jika... supaya kamu senang berada dirumah sakit bagaimana kalau kita buat permainan yang lain setiap harinya. Suster akan merencanakanya kalau kamu setuju.
(Yupi Supartini, 2002 : 87) 

d)       Meminta anak untuk menyebutkan keinginanya
Untuk mengetahui apa yang sedang dikeluhkan anak, minta anak untuk menyebutkan keinginanya. Katakan apabila suster menawarkan pilihan keinginan, apa yang paling diinginkan anak saat itu. Keinginan yang diungkapkanya akan meningkatkan perasaan dan pikirannya saat itu sehingga dapat mengetahui masalah dan potensial yang dapat terjadi pada anak. (Yupi Supartini, 2002 : 87)   
                                          
e)        Biblioterapi
Buku atau majalah dapat juga digunakan untuk membantu anak mengekspresikan pikiran dan perasaanya. Bantu anak mengekspresikan perasanya dengan menceritakan isi buku atau majalah. Untuk itu perawat harus tahu terlebih dahulu ini dari buku atau majalah tersebut dan simpulkan pesan yang ada didalamnya sebelum bercerita pada anak.
(Yupi Supartini, 2002 : 87)

f)         Pilihan pro dan kontra
Cara lain untuk mengetahui perasaan dan pikiran anak adalah dengan mengajukan satu situasi, biarkan anak menyimak dengan baik, kemudian mintalah anak untuk memulihkan hal yang positif dan negatif memuat pendapatnya dari situasi tersebut. (Yupi Supartini, 2002 : 88) 
    
g)        Penggunaan skala peringkat
Skala peringkat digunakan untuk mengkaji kondisi tertentu, misalnya mengkaji intensitas nyeri. Skala peringkat dapat berkisar antara 0 pada satu titik ekstrim dan 10 pada satu titik ekstrim lainya. Nilai tingkat nyeri 1 sampai lima. Kemudian kita tentukan kondisi anak berada pada angka berapa saat mengungkapkan perasaan sedih, nyeri, dan cemas tersebut.
0 diartikan sebagai perasaan skala tidak nyeri
1-2 diartikan sebagai skala nyeri ringan
Lebih dari 3-7 diartikan sebagai skala nyeri sedang
Lebih dari 7- 9 diartikan nyeri yang sangat berat
Lebih dari 9-10 diartikan nyeri yang sangat hebat
 (Yupi Supartini, 2002 : 88)

2.        Teknik Non Verbal

a)        Menulis

Menulis adalah pendekatan komunikai yang secara efektif tiadak saja dilakukan pada anak tetapi juga pada remaja.

Perwat dapat memulai komunikasi dengan anak dengan cara memeriksa atau menyelidiki tentang tulisan dan mungkin juga meminta untuk membaca beberapa bagian. Dengan menulis perawat dapat mengetahui apa yang dipikirkan anak dan bagaimana perasaan anak.

b)        Menggambar
Teknik ini dilakukan dengan cara meminta anak untuk menggambarkan sesuatu terkait dengan dirinya, misalnya perasaan, apa yang dipikirkan, keinginan.

Pengembangan dari teknik menggambar ini adalah anak dapat menggambarkan keluarganya dan dilakukan secara bersama antara keluarga (ibu/ayah) dengan anak.

c)        Kontak mata, postur dan jarak fisik
Pembicaraan atau komunikasi akan teras lancar dan efektif jika kitan sejajar. Saat berkomunikasi dengan anak, sikap ini dapat dilakukan dengan cara membungkuk atau merendahkan posisi kita sejajar dengan anak. dengan posisi sejajar akan memungkinkan kita dapat memungkinkan kontak mata dengan anak dan mendengarkan secara jelas apa yang dikomunikasikan anak.

d)       Ungkapan marah
Anak mengungkapakan perasaan marahnya dan dengarkanlah dengan baik dan penuh perhatian apa yang menyebabkan ia merasa jengkel dan marah. Untuk memberikan ketenangan anak pada saat marah, duduklah dekat dia, pegang tangannya atau pundaknya atau peluklah dia.

e)        Sentuhan
Adalah kontak fisik yang dilakukan dengan cara memegang sebagian tangan atau bagian tubuh anak misalnya pundak, usapan di kepala, berjabat tangan atau pelukan, bertujuan untuk memberikan perhatian dan penguatan terhadap komunikasi yang dilakukan antara anak dan orang tua. (Kemenkes, 2013)

2.5     PENERAPAN STRATEGI PELAKSANAAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA BAYI DAN ANAK

1.        Penerapan komunikasi pada bayi (0-1 tahun)

Bayi terlahir dengan kemampuan menangis karena dengan cara itu mereka berkomunikasi. Bayi menyampaikan keinginanya melalui komunikasi non verbal. Bayi akan tampak tenang dan merasa nyaman dan aman jika ada kontak fisik yang dekat terutama dengan orang yang dikenalnya (ibu). Tangisan bayi itu adalah cara bayi memberitahukan bahwa ada sesuatu yang tidak enak dia rasakan, lapar, popok basah, kedinginan,lelah dan lain-lain.
(Kemenkes, 2013 :14-15)

2.        Penerapan komunikasi pada kelompok todler (1-3 tahun) dan prasekolah (3-6 tahun)

Pada usia ini, anak sudah mampu berkomunikasi secara verbal maupun non verbal. Ciri khas kelompok ini adalah egosentris, dimana mereka melihat segala sesuatu hanya berhubungan dengan dirinya sendiri dan melihat segala sesuatu dengan sudut pandangnya sendiri.

Contoh penerapan komunikasi dalam perawatan :
a)        Memberitahu apa yang terjadi pada diri anak
b)        Memberikan kesempatan pada anak untuk menyentuh alat pemeriksaan yang akan digunakan
c)        Nada suara rendah dan bicara lambat. Jika tidak menjawab harus diulang lebih jelas dengan
           pengarahan yang sederhana
d)       Hindarkan sikap mendesak untuk dijawab seperti kata-kata “jawab dong”
e)        Mengalihkan aktifitas saat komunikasi misalnya dengan memberikan mainan saat komunikasi
f)         Menghindari konfrontasi langsung
g)        Jangan sentuh anak tanpa disetujui dari anak
h)        Bersalam dengan anak saat memulai interaksi, karena bersalaman dengan anak merupakan cara
            untuk menghilangkan perasaan cemas
i)          Mengajak anak menggambar, menulis atau bercerita untuk menggali perasaan dan fikiran anak.
           (Kemenkes, 2013 :15-16)

3.        Komunikasi pada usia sekolah  (7-11 tahun)


Pada masa anak akan banyak mencari tahu terhadap hal-hal baru dan akan belajar menyelesaikan masalah yang dihadapinya berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya, berani mengajukan pendapat dan melakukan klarifikasi yang tidak jelas baginya.
Contoh penerapan komunikasi dalam keperawatan
a)        Memperhatikan tingkat kemampuan bahasa anak dengan menggunakan kata-kata sederhana
           yang spesifik
b)        Menjelaskan sesuatu yang ingin diketahui anak
c)        Pada usia ini keingintahuan pada aspek fungsional dan prosedural dari objek tertentu sangat tinggi,
           maka jelaskan arti, fungsi dan prosedurnya
d)       Jangan menyakiti atau mengancam sebab ini akan membuat anak tidak mampu berkomunikasi
           secara afektif.
(Kemenkes, 2013 :17) 

BAB III
PENUTUP

3.1     KESIMPULAN


Komunikasi terapeutik adalah hubungan interpersonal antara perawat dan klien, yang direncanakan secara sadar yang bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kebutuhan pasien.Perkembangan komunikasi terapeutik pada bayi dan anak sendiri dimulai pada masa bayi samapai anak usia remaja yang mana dari perkembangan itu memeiliki bentuk perkembangan yang berbeda-beda.Selain itu didalam komunikasi terapeutik terdapat bentuk komunikasi prabicara dimana terdiri dari tangisan, ocehan, isyarat, dan ungkapan emosional seorang bayi/anak.Disisi lain dalam melakukan komunikasi kepada bayi terdapat beberapa tekniknya, yaitu bisa menggunakan teknik verbal dan non verbal.Setelah mempelajari semua komunikasi terapeutik pada bayi/anak, terdapat cara menerapkan  komunikasi terapeutik tersebut pada usia bayi sampai anak usia sekolah.
     
3.2     SARAN

1.        Bagi mahasiswa
Agar mahasiswa dapat memperbaiki serta memperhatikan pembuatan makalah selanjutnya, khususnya tentang komunikasi terapeutik bayi/anak

2.        Bagi institusi
Memberikan masukan atau inovasi baru bagi institusi untuk lebih baik dalam memberikan ilmu pengetahuan.

3.        Bagi pembaca
       Agar pembaca dapat menerapkan dan memahami tentang komunikasi terapeutik bayi/anak


DAFTAR PUSTAKA

Bibliography
D, S. G. (2008). Psikologi Perkembangan Anak dan . Jakarta: Gunung Mulia.
Ermawati, D. (2009). Buku Saku Komunikasi Keperawatan. Jakarta: Trans Info Media.
RI, K. (2013). Komunikasi Dalam Keperawatan Modul 2. Jakarta: Badan PPSDM Kesehatan.
Supartini, Y. (2004). Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.
http://bnetpwj.blogspot.co.id/2016/09/makalah-komunikasi-terapeutik-pada-bayi.html

Pranoto Adicoro - Teks Pembawa Acara Bahasa Jawa

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Ingkang kinurmatan  romo .....
Ingkang kulo sayangi .......
Lan hadirin hadirot ingkang berbahagia

Sumangga kita sedaya ngaturaken Puji Astungkara dhumateng Ngarsanipun Gusti Allah, ingkang sampun paring Asung Wara Kerta Nugrahanipun dhumateng kita sami, saengga kita sedaya saged makempal dados setunggal, nyawiji  dados siji, wonten ing papan panggonan menika kanthi raharja kalis ing rubeda, rahayu kalis ing diyu.
Saderengipun kula nyuwun pangapunten dene kula kumawantun cumanthaka wonten ngarsanipun panjenengan sami, dene kula namung ngayahi jejibahan ingkang sampun dipunborongaken dhumateng kula minangka pranata adicara wonten ing adicara Piodalan ulang tahun  menika.
Para rawuh ingkang kulakurmati, keparenga kula maosaken reroncene adicara wonten ing siyang menika. Adicara ingkang angka:
    1. ( sepisan ) Atur pambuka
    2. ( kalih ) ……………
    3. ( tiga ) atur palapuran saking ………………..
    4.  ( Sekawan ) ………………….
    5. ( Gangsal ) Panutuping upacara
       
Dungkap adicara ingkang angka :
1.    Atur pambuka, sumangga kita wiwiti kanthi waosan Basmalah :
- Bismillahirohman nirohim

Dipunlajengaken adicara ingkang angka:
2.    Ngancik ing adicara angka kalih inggih menika, ………………………
Dhumateng ingkang angayahi jejibahan, kula sumanggakaken.
   
3.    Tumapak ing adicara angka tiga, Atur palapuran saking Ketua Panitia adicara
Dhumateng panjenenganipun............kula sumanggakaken
   
4.    Tumapak ing adicara angka sekawan, ………………….

Ing wasono dungkap adicoro engkang ongko :
5.    Paripurno soho panutuping upacara kanti doa
Engkang kapimpin dening ………………. wedal kulo  sumanggak’aken.

Mekaten kala wau sedaya adicara kang rinantam saged kelampahan sedaya tanpa alangan setunggal punapa. Salajengipun, kula minangka pranata adicara mbok menawi wonten gonyak-ganyuke wicara, grusa-grusune solah bawa, kula nyuwun gunge sih samudra pangaksami dhumateng panjenengan sedaya..

Wabilahi taufiq walhidayah 
Wassalamu’alaikum Wr.Wb

CONTOH PROPOSAL PEMILIHAN PENGURUS OSIS

PROPOSAL KEGIATAN
PEMILIHAN PENGURUS OSIS PERIODE TP.2016/2017
SMA NEGERI 1 CLURING


I.    LATAR BELAKANG

Para pelajar merupakan generasi muda yang mempunyai posisi paling penting dalam regenerasi suatu lapisan masyarakat ataupun suatu bangsa. Sehingga para generasi muda lah yang menyambung tongkat estapet kepemimpinan dalam suatu bangsa dan akan menjadi para leadership-leadership yang akan mengembangkan dan memajukan bangsa ini. Sehingga dibutuhkanlah potensi dan kreatifitas-kreatifitas yang dapat  memunculkan suatu siswa yang berkualitas sangat baik dan mampu mengembangkan potensinya bagi bangsa ini.


Organisasi Siswa Intra Sekolah merupakan organisasi yang menjadi wadah bagi seluruh siswwa dalam melaksanakan berbagai kegiatan yang dapat mengaplikasikan semua potensi yang dimiliki dalam bentuk berbagai kegiatan yang dilaksanakann oleh siswa, baik bersifat intens, pengabdian masyarakat dan keikutsertaan dalam lomba, baik tingkat nasional.
Seiring berjalannnya waktu, masa jabatan OSIS SMAN 1 Cluring periode 2016/2017 telah selesai maka harus diadakan pergantian kepengurusan OSIS SMAN 1 Cluring baru, guna terciptanya OSIS SMAN 1 Cluring yang lebih baik. 

II.      Dasar Kegiatan
1.    Program Kerja dan Visi misi SMA Negeri 1 Cluring
2.    Program Kerja Sekbid Sosial Politik OSIS SMA Negeri 1 Cluring


III.     MAKSUD DAN TUJUAN
Adapun tujuan diselenggarakannya Pemilihan Pengurus OSIS SMAN 1 Cluring
periode 2016/2017 ini yaitu: 


a.    Melahirkan generasi-generasi penerus bangsa dan agama yang handal dan mampu melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan semata-mata hanya mengharap Ridho Allah SWT.


b.    Melahirkan pengurus dan ketua OSIS SMAN 1 Cluring periode 2016/2017 yang cerdas, kreatif dan bertanggung jawab untuk mengembangkan program-program OSIS di SMAN 1 Cluring.


c.    Menjalin persaudaraan antar siswa.

IV.    TEMA KEGIATAN
Kegiatan ini bertema : ”PEMIMPIN UNTUK MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK”


VI. BENTUK KEGIATAN

1.    Pemilihan Pengurus osis baru TP.2016/2017
2.    Pemilihan Ketua OSIS TP. 2016 / 2017

VII.   PELAKSANAAN KEGIATAN
Pemilihan Pengurus OSIS,dan Ketua OSIS:
1.    Bagi Formulir Pendaftaran & Pengumpulan Formulir :

       Hari/ Tanggal        : 11,13 Agustus 2016
       Tempat                  : SMA Negeri 1 Cluring

2.    TES TULIS :
       Hari/ tanggal        : 15 Agustus 2016
      Jam                       : 13.30 WIB-Selesai
      Tempat                  : SMA Negeri 1 Cluring

4.  TES WAWANCARA :
      Hari/ tanggal         : 18,19 Agustus 2016
      Jam                       : 13.30 WIB-Selesai
      Tempat                  : SMA Negeri 1 Cluring

5. TES PBB:
     Hari/Tanggal        : Minggu,21 Agustus 2016
    Jam                       : 06.00 WIB-Selesai
    Tempat                  : SMA Negeri 1 Cluring


VIII.  PANTIA PELAKSANA
Seluruh rangakaian kegiatan dalam Pemilihan pengurus Osis baru ini akan diselenggarakan oleh Pengurus OSIS SMAN 1 Cluring

IX. SUMBER DANA
1.    Subsidi dari Sekolah ( SMAN 1 Cluring )


X. LAMPIRAN – LAMPIRAN
1.    Anggaran dana
2.    Dokumentasi
3.    Susunan Kepanitiaan
4.    Lain-lain

XII. PENUTUP

Demikian proposal ini kami buat dengan harapan kiranya pelaksanaan kegiatan pemilihan pengurus osis periode 2016/2017 ini dapat berjalan dengan baik dan menjadi. Kami juga berharap dukungan dan apresiasi positif dari semua  kalangan yang ada di SMA Negeri 1 Cluring sehingga kegiatan ini menjadi agenda rutin dilingkungan SMAN 1 Cluring.
Akhir kata, kami segenap panitia mengucapkan terima kasih kepada Bapak/ Ibu / Saudara dan segala pihak yang bersedia membantu mensukseskan acara ini.

   
                                    Cluring, 9 Agustus 2016

Ketua Panitia                        Sekretaris
   


------------------------------                    ------------------------------

WakasekKesiswaan                    Ketua OSIS


    --------------------------                    ------------------------------


Mengetahui
Kepala SMA Negeri 1 Cluring



---------------------------------------